"Guru." kata seorang murid yang lain." dulu guru pernah mengatakan bahawa qur'an itu mengandungi ayat ayat yang jelas dan mutasyabihat. Sedang yang mutasyabihat (samar) tidak diketahui takwilannya kecuali Allah?"
"Yah.....dulu memang demikian (jawab sang Guru). Tapi sekarang tidak lagi.Sebab, kalau Qur'an,walau sebagiannya, tidak difahami kecuali Allah, maka buat apa Qur'an diturunkan untuk manusia? Bukankah Qur'an ini diturunkan supaya manusia mengambil petunjuk daripadanya? Nah, kalau sebagian ayatnya yang mutasyabihat tadi tidak difahami, lalu untuk apa ayat itu diturunkan?
"Ma'af Guru! Bukankah dengan mengatakan demikian bererti guru telah keluar dengan makna ayat tadi, kerana diayat itu, untuk ayat ayat yang mutasyabihat dikatakan bahawa, ....tidak ada yang tahu kecuali Allah?"
"Murid ku, alQur'an itu ada titik komanya. Kaum muslimin berbeda pendapat dalam meletakkan koma pada ayat itu. Dan dulu aku meletakkan seperti yang apa engkau katakan. Akan tetapi sekarang, setelah dailog tadi, dan kerana alasan alasan tadi, yaitu alQur'an diturunkan untuk diikuti yang mana sudah tentu harus difahami terlebih dahulu, maka saya yakin bahawa koma pada ayat itu tidak terletak setelah Allah. Dan makna ayat itu sedikit berubah. Coba perhatikan! Kalau komanya setelah Allah, maka ayat itu akan menjadi '.....tidaklah ada yang tahu takwilnya kecuali Allah, dan orang orang yang berpengetahuan mengatakan bahawa; semua dari Allah'. Akan tetapi kalau komanya diletakkan setelah orang orang yang berpengetahuan, akan menjadi sebagai berikut, '.....tidaklah ada yang tahu takwilnya kecuali Allah dan orang orang yang berpengetahuan, yang mana mereka mengatakan semua dari Allah'. Sekarang aku yakin, bahawa peletakan koma yang kedua nitulah yang benar."
Sunday, July 19, 2009
ALQUR'AN DAN HADITS YANG KITA FAHAMI BELUM TENTU BENAR.....??

"Wah....banyak, banyak sekali," Jawab sang Guru,"kami hanya bersepakat dalam masaalah bid'ah, kurafat, tahyul dan masaalah masaalah kesyirikan. Akan tetapi dalam masaalah ekonomi, sosial, politik dan lain lain kami mempunyai setumpuk perbedaan."
"Tapi itu kan tidak termasuk haram mengharamkan, guru." Kata sang Murid.
"Wah.....siapa bilang?" Sergah sang Guru."Misalnya masaalah bunga. Kita berbeda pendapat mengenainya. Ada yang tetap menharamkan walaupun bunganya untuk kepentingan umum dan ada yang tidak. Atau katakan pada sebagian yang lain tidak dengan kata haram mengharamkan. Akan tetapi seringkali kita dengar misalnya, kurang Islami, dalam keadaan begini, Islam tidak boleh begini natau begitu, yang itu salah yang lain benar dan lain lainnya, yang kata kata itu acapkali sali g kita lemparkan diantara sesama kita."
"Bagaimana jadi begitu, Guru?" Tanya saorang murid yan dari tadi kelihatan bingung. "Bukankan mereka sudah kembali kealQur'an dan hadits?"
" Ya......sekarang baru aku sadar, sejak perdebatanku dengan siPolan tadi, aku mulai mengerti bahawa alQur'an dan Hadits yang dipakai adalah alQur'an dan Hadits yang kita fahami. Bukankah jelas sekali alQur'an dan Hadits yang kita fahami belum tentu benar? Seandainya kita kembali ke alQur'an atau Hadits, tapi benar benar sesuai dengan keduanya, maka dapat dipastikan bahawa kita tidak akan bercerai berai seperti sekarang ini. Kerana dalam alQur'an tidak mempunyai kontradiksi sehingga boleh menimbulkan perpecahan ini." Lanjut sang Guru.
"Guru, apakah mungkin alQur'an dapat difahami sebenar benarnya, sehingga kalau kita kembali kepadanya pasti tidak akan bercerai berai?" Tanya saorang murid lagi.
"Itulah salah satu yang akan saya cari jawapannya. Sebab, saya sekarang memahami dari kejadian tadi, bahawa kerana mengingat agama Islam ini adalah agama akhir zaman, dan ia diturunkan untuk dijadikan pedoman, maka sesungguhnya mestilah alQur'an ini dapat difahami dengan sebenar benar pemahaman." Jelas san Guru.
Wednesday, July 15, 2009
SYIRIK MENSYIRIK...BID'AH MEMBID'AH...

"Itulah yang sedang ku fikirkan. Dulu guru guruku dalam hal hal tertentu menggunakan akal dan mencemuh orang yang tidak menggunakannya. Akan tetapi dalam hal hal yang lain, misalnya, keEsaanNya, alQur'an makhluk atau bukan, pertemuan kita dengan Allah disyurga, rukun iman keenam, mukjizat merosak tatanan sunnah Allah atau tidak, orang sholeh boleh saja dimasukkan keneraka kalau Ia berkehendak, dan banyak yang lain lagi, guruku tidak mau menerima huraian golongan lain yang menggunakan akal disamping alQur'an. Guruku mengatakan bahawa agama tidak boleh difikir fikirkan, tidak boleh menggunakan akal. Berapa banyak perbedaan diantara kaum muslimin. Barangkali inilah yang dimaksudkan nabi dengan perpecahan 73 golongan itu. Yah......yang mana yang benar, sangat susah mencarinya...."
"Guru, masih adakah perbedaan seandainya kita kembali kepada alQur'an dan Hadits, sebagaimana yang diamalkan dipondok pondok, guru?" Soal lagi san murid.
"Oh......ada, masih ada." Ujar sang Guru.
"Barangkali hanya furu', guru?"
"Ah....tidak. Tidak murid ku. Bahkan sampai syirik mensyirikkan. Yang mana syirik adalah dosa yang paling besar dan menyangkut masaalah keimanan. Dan walaupun sebagiannya adalah masaalah furu', akan tetapi kalau sudah sampai bid'ah membid'ahkan, ini adalah masaalah besar. Sebab setiap bid'ah adalah dhalalah, dan setiap dhalalah tempatnya dineraka. Jadi, sholat orang yang ada bid'ahnya, menurut yang membid'ahkan, bukah hanya sholatnya tidak diterima, akan tetapi bahkan akan menyebabkan mereka masuk neraka." Jelas sang Guru panjang.
"Guru, dulu guru pernah berkata bahawa dipondok guru adalah termasuk golongan yang kembali kepada alQur'an dan Hadits secara murni. Masih disana ada perbedaan pendapat dalam agama, Guru?" Tanya lagi sang murid tadi.
Sunday, June 21, 2009
apakah dalam Islam tidak dibenarkan menggunakan akal?
"Eee....maaf guru...." saorang murid Sang Guru mencelah.
"Ah.....tak apa. Ada apa?" Soal Sang Guru.
"Bolehkah saya menanyakan satu hal?"
"Ya, boleh saja. Tanyakanlah!" Ujar Sang Guru.
"Guru! Apakah dalam alQur'an atau hadits tidak ada yang menganjurkan menggunakan akal dan mencerdaskannyadalam agama atau dalam mencari Tuhan?" Ia menanyakan hal itu kerana dalam dailog tadi, ketika ditanya mengenai Tuhan apakah ada dan Esa, ia perhatikan , gurunya hanya berdalilkan alQur'an . Maka dari itu ketika dikejar, alQur'an pun, akhirnya, tak dapat dipertahankan sebagaimana anda ketahui tadi.
"Ada, bahkan banyak (Jawab Sang Guru). Misalnya ada yang mengatakan bahawa sebenarnya kalau engkau menggunakan akal maka akan mengerti kebenaran ada Nya. Allah aka tunjukkan bukti kebenaranNya pada kita melalui alam ciptaanNya dan dari diri kita sendiri. Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi dan seisinya adalah bukti bukti bagi orang yang berilmu. Bahkan dikatakan dalam satu ayat yang mengecam orang orang yang bodoh, seperti; Sesungguhnya kebanyakan mereka tidak menggunakan akalnya (bodoh).
"Guru! (tanya sang murid lagi). Lalu mengapa guru katakan bahawa dalam Islam tidak boleh menggunakan akal dalam agama, khususnya dalam mengenal Nya?"
"Ah.....tak apa. Ada apa?" Soal Sang Guru.
"Bolehkah saya menanyakan satu hal?"
"Ya, boleh saja. Tanyakanlah!" Ujar Sang Guru.
"Guru! Apakah dalam alQur'an atau hadits tidak ada yang menganjurkan menggunakan akal dan mencerdaskannyadalam agama atau dalam mencari Tuhan?" Ia menanyakan hal itu kerana dalam dailog tadi, ketika ditanya mengenai Tuhan apakah ada dan Esa, ia perhatikan , gurunya hanya berdalilkan alQur'an . Maka dari itu ketika dikejar, alQur'an pun, akhirnya, tak dapat dipertahankan sebagaimana anda ketahui tadi.
"Ada, bahkan banyak (Jawab Sang Guru). Misalnya ada yang mengatakan bahawa sebenarnya kalau engkau menggunakan akal maka akan mengerti kebenaran ada Nya. Allah aka tunjukkan bukti kebenaranNya pada kita melalui alam ciptaanNya dan dari diri kita sendiri. Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi dan seisinya adalah bukti bukti bagi orang yang berilmu. Bahkan dikatakan dalam satu ayat yang mengecam orang orang yang bodoh, seperti; Sesungguhnya kebanyakan mereka tidak menggunakan akalnya (bodoh).
"Guru! (tanya sang murid lagi). Lalu mengapa guru katakan bahawa dalam Islam tidak boleh menggunakan akal dalam agama, khususnya dalam mengenal Nya?"
Saturday, June 20, 2009
PERTEMUAN BERAKHIR......
"Sebab bagi saya kitab suci termasuk bererti suci dari campur tangan manusia yang hina ini. Kitab suci haruslah hanya disusun oleh Tuhan sendiri. Dan alQur'an sulit untuk dipercaya oleh kami sebagai firmanNya yang murni, seandainya Ia lalai mewahyukan kepada NabiNya untuk menyusun kitabNya itu. Lebih lebih firmanNya atau sunnah NabiNya tidak ada yang menyuruh untuk itu, sesuai dengan apa yang tadi anda katakan. Bagi saya kalau memang agama Islam itu benar, tidak adanya perintah dalam firmanNya dan sunnah digabung dengan mustahilnya Tuhan membiarkan berserakannya firmanNya didaun daun, dikulit kulit kayu, tulang tulang dan lain lain, menunjukan bahawa Ia telah menyusun semua firmanNyaitu dengan membimbing NabiNya. Tapi yah......sekarang belum dapat saya yakini kebenaran Islam ini sebelum janji untuk menyelesaikan diskusi ini dapat anda penuhi nantinya." Kata sipenanya panjang lebar.
Dengan perasaan malu tapi ia berusaha untuk tetap tenang Sang Guru terpaksa berjanji untuk kesekian kalinya pada Sipenanya, Ia berkata," Apa yang anda katakan tadi, semuanya ada benarnya. Saya kagum kepada kecemerlangan tuan.Semoga saya segera dapat membantu tuan dalam hal ini setelah saya memperdalam lagi. Dan sekali lagi maafkanlah saya dalam keterbatasan saya ini. Untuk hari ini, cukup sekadar disini saja. Untuk besok dan seterusnya, buat sementara tidak akan ada pertemuan sehingga saya kembali nanti. Dan sekali lagi saya minta maaf untuk ini serta terima kasih saya ucapkan untuk kedatangan anda dan perhatian anda selama ini."
Setelah bersalaman dengan penuh akrab, pertemuan pada hari itu yang mana adalah hari terakhir, berakhir. Sang Guru tinggal dengan beberapa muridnya untuk sholat Zhuhur. Setelah usai sholat, Sang Guru sejenak melamun dan memikirkan kejadian yang pertamakali dialaminya sebentar tadi, selama ia menyebarkan Islam. Ia sedih dan menyesal serta memuhun ribuan keampunan dari Tuhan diatas keterbatasan ilmunya. Ia mohon pertunjuk dari Allah agar Ia membimbingnya kejalan yang benar.
Setelah itu ia menghadap murid muridnya yang nampak semakin tegang melihat guru mereka tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan Sipenanya tadi. Dengan suara lembut dan penuh kasih sayang Sang Guru berkata;
"Murid murid ku! Gurumu ini adalah ibarat setetes dari lautan luas pengetahuan Islam. Yakinkanlah bahawa kelemahan itu ada pada gurumu ini. Bukan pada Islam. Memang sekarang aku baru sadar bahawa apa yang dilakukan oleh sebagian muslimin, ia itu memperdalam ilmu logika dan filsafat, yang kami di pondok dulu menganggap hal itu telah mengotorkan agama kerana telah memasukkan unsur unsur akal kedalamnya, ternyata sangat bermanfaat untuk mempertahankan Islam. Bahkan tanpa akal, seperti yang terjadi tadi, kita tidak dapat mempertahankan kesuciannya. Terus terang, kami dulu waktu belajar dipondok, kami merasa bangga dan sangat bersyukur kepada Allah kerana Ia telah membimbing kami kepada Islam murni. Artinya, kerana kami hanya berpegang kepada alQur'an dan alHadits. Kami tidak menerima segala macam takwilan yang bersifat aqli terhadap keduanya. Kami mengira hanya dengan kembali kepada keduanya kita akan selamat dan tidak akan terpecah seperti yang diisyaratkan dalam hadits (iaitu menjadi 73 bagian."
Dengan perasaan malu tapi ia berusaha untuk tetap tenang Sang Guru terpaksa berjanji untuk kesekian kalinya pada Sipenanya, Ia berkata," Apa yang anda katakan tadi, semuanya ada benarnya. Saya kagum kepada kecemerlangan tuan.Semoga saya segera dapat membantu tuan dalam hal ini setelah saya memperdalam lagi. Dan sekali lagi maafkanlah saya dalam keterbatasan saya ini. Untuk hari ini, cukup sekadar disini saja. Untuk besok dan seterusnya, buat sementara tidak akan ada pertemuan sehingga saya kembali nanti. Dan sekali lagi saya minta maaf untuk ini serta terima kasih saya ucapkan untuk kedatangan anda dan perhatian anda selama ini."
Setelah bersalaman dengan penuh akrab, pertemuan pada hari itu yang mana adalah hari terakhir, berakhir. Sang Guru tinggal dengan beberapa muridnya untuk sholat Zhuhur. Setelah usai sholat, Sang Guru sejenak melamun dan memikirkan kejadian yang pertamakali dialaminya sebentar tadi, selama ia menyebarkan Islam. Ia sedih dan menyesal serta memuhun ribuan keampunan dari Tuhan diatas keterbatasan ilmunya. Ia mohon pertunjuk dari Allah agar Ia membimbingnya kejalan yang benar.
Setelah itu ia menghadap murid muridnya yang nampak semakin tegang melihat guru mereka tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan Sipenanya tadi. Dengan suara lembut dan penuh kasih sayang Sang Guru berkata;
"Murid murid ku! Gurumu ini adalah ibarat setetes dari lautan luas pengetahuan Islam. Yakinkanlah bahawa kelemahan itu ada pada gurumu ini. Bukan pada Islam. Memang sekarang aku baru sadar bahawa apa yang dilakukan oleh sebagian muslimin, ia itu memperdalam ilmu logika dan filsafat, yang kami di pondok dulu menganggap hal itu telah mengotorkan agama kerana telah memasukkan unsur unsur akal kedalamnya, ternyata sangat bermanfaat untuk mempertahankan Islam. Bahkan tanpa akal, seperti yang terjadi tadi, kita tidak dapat mempertahankan kesuciannya. Terus terang, kami dulu waktu belajar dipondok, kami merasa bangga dan sangat bersyukur kepada Allah kerana Ia telah membimbing kami kepada Islam murni. Artinya, kerana kami hanya berpegang kepada alQur'an dan alHadits. Kami tidak menerima segala macam takwilan yang bersifat aqli terhadap keduanya. Kami mengira hanya dengan kembali kepada keduanya kita akan selamat dan tidak akan terpecah seperti yang diisyaratkan dalam hadits (iaitu menjadi 73 bagian."
Thursday, June 18, 2009
BOLEHKAH KITA MENYUSUN ALQUR'AN INI DENGAN SUSUNAN LAIN DARI YANG ADA INI?
"Tuan! Dari mana anda tau bahawa itu adalah tugas manusia? Sebab, jangankan perintah untuk itu, dalil untuk membolehkannya saja, dari agama, anda tadi tidak dapat menunjukkannya kepada saya.Lalu dari mana anda dapat memahami itu?" Sipenanya mendesak lagi.Dan Sang Guru tidak dapat memberi jawaban. Akhirnya Sipenanya meneruskan pertanyaan.
"Atau begini tuan!(Kata sipenanya lagi berusaha memberi andaian). Menyusun kitab tentu tidak mudah, sebab mana yang harus diletakkan didepan, dan dalam hal ini tidak ada petunjuk dari Tuhan tuan. Sekarang saya mau bertanya, bagaimana kalau surat surat itu tersusun tidak sesuai dengan apa yang Tuhan anda kehendaki. Dan saya yakin susunan manusia itu tidak akan sama dengan yan Ia kehendaki. Sebab, sebagaimana anda katakan tadi, dalam hal tersebut tidak ada petunjuk dari Nya."
"Saya sudah katakan tadi, bahawa tidak adanya petunjuk itu berti penyusunan itu terserah kepada kita. Dan hal itu bererti tidak merubah essensi alQur'an sebagai petunjuk bagi manusia." Jelas Sang Guru memperingatkan.
"Baiklah, (kata Sipenanya). Sekarang saya mau bertanya apa kah boleh seorang menulis alQur'an dalam bentuk lain dari alQur'an yang ada ini, tuan? Maksud saya, surat surat yang didepan ditukar tempatnya dengan surat surat yang ada ditengan atau dibelakang?"
"Ah.....itu tidak boleh dilakukan tuan!" Sang guru berkata dengan sedikit gusar.
"Kenapa?" Tanya si penanya ingin tau.
"Kerana akan menimbulkan ketidakseragaman diantara kaum muslimin." Jelas sang Guru.
"Apakah ketidak seragaman itu tidak baik tuan?" Sipenanya bertanya lagi.
"Yaa....kurang baik bahkan tidak baik sama sekali." kata Sang Guru.
"Laaa......(Sipenanya terkejut). Apakah Tuhan tuan tidak menyadari tentang hal ini tuan, sehingga Tuhan tuan tidak menyusunnya? Sehingga orang orang akan memahami, seperti yang anda katakan, bahawa tidak samanya susunan manusia dengan susunan Tuhan tidak merubah essensi alQur'an? Atau berangkat dari namanya saja, ia itu kitab suci, yang menandakan suci dari segala galanya, akan menjadi tidak suci lagi kalau ada campur tangan manusia."
"Kenapa begitu?" Sang Guru bertanya keheranan.
"Atau begini tuan!(Kata sipenanya lagi berusaha memberi andaian). Menyusun kitab tentu tidak mudah, sebab mana yang harus diletakkan didepan, dan dalam hal ini tidak ada petunjuk dari Tuhan tuan. Sekarang saya mau bertanya, bagaimana kalau surat surat itu tersusun tidak sesuai dengan apa yang Tuhan anda kehendaki. Dan saya yakin susunan manusia itu tidak akan sama dengan yan Ia kehendaki. Sebab, sebagaimana anda katakan tadi, dalam hal tersebut tidak ada petunjuk dari Nya."
"Saya sudah katakan tadi, bahawa tidak adanya petunjuk itu berti penyusunan itu terserah kepada kita. Dan hal itu bererti tidak merubah essensi alQur'an sebagai petunjuk bagi manusia." Jelas Sang Guru memperingatkan.
"Baiklah, (kata Sipenanya). Sekarang saya mau bertanya apa kah boleh seorang menulis alQur'an dalam bentuk lain dari alQur'an yang ada ini, tuan? Maksud saya, surat surat yang didepan ditukar tempatnya dengan surat surat yang ada ditengan atau dibelakang?"
"Ah.....itu tidak boleh dilakukan tuan!" Sang guru berkata dengan sedikit gusar.
"Kenapa?" Tanya si penanya ingin tau.
"Kerana akan menimbulkan ketidakseragaman diantara kaum muslimin." Jelas sang Guru.
"Apakah ketidak seragaman itu tidak baik tuan?" Sipenanya bertanya lagi.
"Yaa....kurang baik bahkan tidak baik sama sekali." kata Sang Guru.
"Laaa......(Sipenanya terkejut). Apakah Tuhan tuan tidak menyadari tentang hal ini tuan, sehingga Tuhan tuan tidak menyusunnya? Sehingga orang orang akan memahami, seperti yang anda katakan, bahawa tidak samanya susunan manusia dengan susunan Tuhan tidak merubah essensi alQur'an? Atau berangkat dari namanya saja, ia itu kitab suci, yang menandakan suci dari segala galanya, akan menjadi tidak suci lagi kalau ada campur tangan manusia."
"Kenapa begitu?" Sang Guru bertanya keheranan.
Tuesday, June 16, 2009
KENAPA TIDAK TUHAN SENDIRI YANG MENYUSUN ALQUR'AN?
"Sebenarnya saya tidak berhak mempermasaalahkan agama tuan. Samaada benar atau tidak. Akan tetapi semua yang saya lakukan ini adalah semata mata saya ingin tau kebenaran agama tuan. Jadi maaf, kalau dari pertanyaan saya ini terkesan kurang sopan terhadap agama tuan." Kembali Sipenanya menjelaskan maksud baiknya. Sebab ia bimbang Sang Guru didepannya akan mulai tidak sabar dan segera mengusirnya, seperti yang dialaminya beberapa tahun lalu.
"Oh.....tidak apa apa, itu biasa dan orang yang ingin tau Islam mestilah ia menanyakan secara terang terangan." Kata Sang Guru membesarkan hati sambil memberi gambaran bahawa Islam bukanlah agama yang dipaksakan. Ia adalah agama besar dan suci. Yah......tapi malang, Sang Guru tidak dapat membuktikan semua itu kepada Sang Penanya.
"Bolehkah saya melanjutkan pertanyaan saya sedikit lagi tuan?" Pinta Sipenanya.
"Ya, ya.... silakan."
"Begini tuan (Kata Sipenanya) bagi pengertian saya, seorang Nabi pun tidak berhak menyusun kitab suci semaunya sendiri. Kalau alQur'an itu memang benar dari Tuhan, maka siapa pun tidak boleh ikut campur dalam urusan itu. Lalu, mengapa anda katakan bahawa barangkali Nabi belum sempat?"
Terperanjat juga Sang Guru ini mendengar kata kata Sipenanya. Tapi ia belum faham apa bebenarnya maksud Sipenanya ini. Maka dengan sedikit hairan, kerana ia memang berusaha menutupnya, ia bertanya.
"Kenapa ia tidak boleh menyusunnya?"
"Laa.....tadi, diwaktu anda menjelaskan rukun Islam dan rukun Iman mengatakan bahawa Nabi itu adalah wakil Tuhan, bukan begitu?" Soal sipenanya.
"Ya, benar." Jawab Sang Guru pendek.
"Nah......kalau begitu, kerana dia wakil Tuhan, maka bolehkah ia mengatur dan menyusun sendiri firman firman Tuhan itu tuan? Bolehkah wakil Tuhan mengatur dan menyusub firman Tuhan?" Sipenanya terus mendesak.
"Katakanlah tidak boleh, tapi dalam penyusunan itu tak akan terpengaruhi isinya dan tujuannya alQur'an sebagai petunjuk bagi umat manusia, tuan." Sang Guru berusaha menjelaskan posisi alQur'an.
"Aneh.....aneh juga agama tuan ini (keluh Sipenanya). Kenapa Tuhan anda tidak melakukan penyusunan itu dan mengesahkannya pada manusia."
"Yah.......katakanlah itu sebagai tugas manusia." Sang Guru ingin lebih meyakinkan Sipenanya.
"Oh.....tidak apa apa, itu biasa dan orang yang ingin tau Islam mestilah ia menanyakan secara terang terangan." Kata Sang Guru membesarkan hati sambil memberi gambaran bahawa Islam bukanlah agama yang dipaksakan. Ia adalah agama besar dan suci. Yah......tapi malang, Sang Guru tidak dapat membuktikan semua itu kepada Sang Penanya.
"Bolehkah saya melanjutkan pertanyaan saya sedikit lagi tuan?" Pinta Sipenanya.
"Ya, ya.... silakan."
"Begini tuan (Kata Sipenanya) bagi pengertian saya, seorang Nabi pun tidak berhak menyusun kitab suci semaunya sendiri. Kalau alQur'an itu memang benar dari Tuhan, maka siapa pun tidak boleh ikut campur dalam urusan itu. Lalu, mengapa anda katakan bahawa barangkali Nabi belum sempat?"
Terperanjat juga Sang Guru ini mendengar kata kata Sipenanya. Tapi ia belum faham apa bebenarnya maksud Sipenanya ini. Maka dengan sedikit hairan, kerana ia memang berusaha menutupnya, ia bertanya.
"Kenapa ia tidak boleh menyusunnya?"
"Laa.....tadi, diwaktu anda menjelaskan rukun Islam dan rukun Iman mengatakan bahawa Nabi itu adalah wakil Tuhan, bukan begitu?" Soal sipenanya.
"Ya, benar." Jawab Sang Guru pendek.
"Nah......kalau begitu, kerana dia wakil Tuhan, maka bolehkah ia mengatur dan menyusun sendiri firman firman Tuhan itu tuan? Bolehkah wakil Tuhan mengatur dan menyusub firman Tuhan?" Sipenanya terus mendesak.
"Katakanlah tidak boleh, tapi dalam penyusunan itu tak akan terpengaruhi isinya dan tujuannya alQur'an sebagai petunjuk bagi umat manusia, tuan." Sang Guru berusaha menjelaskan posisi alQur'an.
"Aneh.....aneh juga agama tuan ini (keluh Sipenanya). Kenapa Tuhan anda tidak melakukan penyusunan itu dan mengesahkannya pada manusia."
"Yah.......katakanlah itu sebagai tugas manusia." Sang Guru ingin lebih meyakinkan Sipenanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)